Selasa, 03 Februari 2015

Selamat Wisuda, Kawan!

Akhir bulan kemarin, tanggal 29 Januari 2015, saya datang ke acara wisuda adik tingkat kuliah, di sebuah universitas yang berada di kota Semarang. Sebut saja namanya Afrey dan Hancim. Maaf, nama-nama saya samarkan untuk menjaga nama baik mereka dari calon mertua masing-masing.

Dari kiri: Hancim dan Afrey


Saya memang sengaja datang ke acara wisuda mereka, karena saya telah menganggap mereka sebagai sahabat saya sendiri. Beberapa teman kami lainnya; Juki (Bondowoso), Syauqi (Purwokerto) dan Umar (Pasuruan), juga turut datang di acara yang ber-prasejarah itu. Moment ini saya anggap sebagai reuni kecil-kecilan, karena sangat jarang bisa bertemu dengan makhluk kolosal seperti mereka.

Sebetulnya, Afrey dan Hancim bukan adik tingkat kuliah saya. Mereka masuk kuliah bebarengan dengan saya pada tahun 2009. Namun, berhubung saya wisuda duluan, akhirnya mereka saya bai’at menjadi –adik kelas- saya.

Terlepas dari pro-kontra bahwa mereka adalah adik kelas saya atau bukan, saya akan sedikit nostalgia. Afrey dan Hancim adalah sahabat saya. Oleh takdir, kami dipaksa bertemu di kampus dan jurusan yang sama saat kuliah.

Walaupun kami beda kelas saat kuliah, kami gak pernah yang namanya kuliah bareng. Iyalah. Oke, bukan itu maksud saya, walaupun kami beda kelas, tapi kami tinggal di dormitory yang sama, jadinya kami sering kumpul dan ngobrol. Karena mempunyai visi dan misi yang sama, kami pun terpaksa bersahabatan. Walau akhirnya kami harus kakak-adekan seperti sekarang. Ya, saya kakak kelasnya, mereka turun pangkat menjadi adik kelas saya. Mereka sedikit terlambat wisuda dari saya. #uhuk... Yeaaayy!! *aku merasa senior*

Keterlambatan wisuda mereka sebetulnya bukan tanpa alasan. Kalau boleh saya analisis, mereka terlambat karena beberapa faktor. Pertama, skripsi mereka yang sangat berkualitas, hingga membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menyempurnakan. Tau sendiri, kan, kesempurnaan itu obsesi yang nyaris mustahil untuk dikejar. Kesempurnaan itu milik Tuhan.

Kedua, karena dosen yang  -alibi mereka- susah ditemui. Alasan itu sebetulnya klasik. Memang, terkadang dosen terkesan sering menghindar dari para mahasiswa yang dibimbingannya, dengan alasan sibuk. Padahal saya sering menyarankan sama mereka; dosen yang menyebalkan seperti itu sebaiknya dikirim santet. Namun, karena biaya konsultasi dengan Eyang Subur sangat mahal, akhirnya mereka menolak saran saya.

Ketiga, karena jomblo. Ya, jomblo itu seringkali membuat para penderitanya tidak sempat mengerjakan skripsi. Waktu mereka habis untuk memikirkan bagaimana cara mendapatkan pacar. Maka dari itu, dulu saya menyarankan mereka untuk segera mencari pacar. Itu semua agar mereka bergairah untuk mengerjakan skripsi. Setelah mereka mencari pacar selama 2 tahun, akhirnya mereka semakin terlambat wisuda. Ini takdir Tuhan, jangan salahkan saya.

Keempat, faktor males. Ya, sudah menjadi rahasia umum, bahwa males merupakan alasan paling tepat dari semua alasan.

***

Setelah berjam-jam saya menunggu, akhirnya mereka keluar dari gedung wisuda. Dari kejauhan, Afrey dan Hancim terlihat sangat bahagia. Kalau saya ibaratkan, mereka layaknya pasangan yang baru saja melaksanakan prosesi akad nikah. Saya pun bisa merasakan euphoria mereka. Betapa senyum tipis yang diiringi butir keringat di dahinya itu menandakan kepuasan dan akhir dari perjuangan di kampus ijo.

Keduanya pun disambut oleh adik-adik kelasnya, mahasiswa astronomi, yang sudah menanti lama di luar gedung. Suasana pun riuh dengan sorakan yang entah itu pujian atau hinaan -karena mereka lulus dengan IPK 69. cum-laude. Beberapa terlihat meminta foto bareng. Pun saya juga tak mau ketinggalan untuk berfoto dengan Afrey, seorang artis terkenal dalam film ‘Assalamualaikum, Zimbabwe..’ itu. Namun sayangnya, tak seorang pun dari mereka yang ditemani pendamping wisuda.

Oh iya, sebetulnya di acara wisuda sangat banyak, lho, peluang usaha. Memanfaatkan moment. Seperti jualan bunga, es teh, gorengan, balon, jasa foto wisuda, sampai jasa menyewakan odong-odong untuk menabrak mantan yang wisuda (oke, yang ini bercanda).  Tapi, ada peluang usaha yang sampai sekarang belum saya temukan di acara wisuda; yaitu jasa penyewaan pendamping wisuda. Padahal, mengingat target pasarnya adalah jomblo, pasti akan laku keras.

Saya juga bingung, sebetulnya Afrey memang tak punya pacar, atau punya pacar tapi disembunyikan supaya tidak menimbulkan sifat takabbur dan riya? Entahlah. Saya lebih percaya Afrey mempunyai sifat riya’. Lha wong bibir saja dia berlebih-lebihan. Sombong. Dimonyong-monyongin. Ujub. Padahal berlebihan itu teman setan. (damai, yo, Jal.. heuheu)

***
      Terlepas dari itu semua, saya hanya ingin mengucapkan selamat atas wisuda kalian. Selamat menempuh hidup baru. Sebagai senior, saya selalu mendoakan agar nasib kalian tidak  sama seperti saya. Wisuda bukanlah akhir dari perjuangan, Kawan.. Kalau boleh saya ibaratkan, wisuda adalah hari di mana kalian dilahirkan kembali, setelah 5 tahun lebih dikandung dalam rahim kampus. Status baru sebagai sarjana merupakan tantangan baru bagi kalian. Apalagi kalian merupakan sarjana de facto, bukan de jure. Faktanya, kalian sarjana, tapi de jure, kalian jomblo. #gagalfokus

Dari kiri: Afrey dan Kakak Seniornya

 
Dari kiri: Syauqi (Jomblo Zaman Dinasti Ching), Ivan (Widusawan Prematur), Afrey (Junior saya), Han Cim (Junior Juga), Afgan (versi camera 360), Umar (Korban PHP), tiga yang di bawah (teman-teman yang lain).


Sekian, dan segeralah menikah...
       

Jumat, 23 Januari 2015

The Crazy Story in Hospital

Tanggal 7 Januari kemarin, saya beranjak menuju kota atlas. Saya berniat untuk menemui teman lama saya yang jauh-jauh dari Kalimantan, Otoy, yang tersebab kebetulan sedang ada keperluan di sana. Karena jarak Kudus-Semarang hanya satu setengah jam, saya tak mau menyiakan kesempatan untuk bertemu dengannya.  

Belum sempat bertemu dengan si Otoy, kakak saya memaksa untuk segera pulang. Saya mendapatkan kabar yang cukup menghantam batin saya, bahwa ibuk sedang dilarikan ke rumah sakit. Kabar yang cukup mencengangkan. Pasalnya, waktu akan berangkat, saya berpamitan dengan ibuk yang terlihat dalam kondisi sehat bugar. Tak menampakkan hal yang mencurigakan sama sekali.

Sebetulnya sangat dilematis. Antara menemui teman lama, atau segera balik lagi ke Kudus untuk menjaga ibu saya. Karena takut dikutuk menjadi batu bata, akhirnya saya segera pulang. Saya pun gagal total untuk menemui teman lama saya, Otoy. Saya memilih pulang.

Setelah sampai di Kudus, saya pun langsung menuju rumah sakit. Saya melihat ibu saya sedang tergulai lemas di sana. Tangan kirinya sudah tertancap jarum infuse. Ini kondisi yang sangat jarang saya lihat. Ibuk memang jarang sekali sakit. Malahan, saya yang sering minta dikerokin pas lagi masuk angin, akibat sering begadang mikirin mantan.

Bahkan, seumur-umur saya, baru kali ini ibuk masuk rumah sakit. Biasanya, sakitnya ibuk paling cuma batuk pilek dan pusing. Minum paramex juga sembuh. Saya sempat bilang, “Buk, njenengan ya bisa sakit to?”. Pertanyaanku cuma dijawab cengengesan dengan gamparan yang lumayan melinukan.

Saya heran, biasanya fisik ibuk sangat kuat. She is my superwomen. Ngangkat apa saja kuat. Ngangkat jemuran, ngangkat batu bata, ngangkat semen, ngangkat genteng, semuanya kuat (kok jadi kayak kuli bangungan?). Kalau saya susah dibangunin saja, saya sering diangkat lalu dicemplungin ke jamban (yang ini bercanda).

Menurut analisis dokter dan hasil rontgen, ibu saya terserang penyakit usus buntu kronis. Kabar itu cukup menghantam batin saya. Katanya, harus segera dioperasi agar tidak semakin parah. Dokter meminta saya menandatangani surat persetujuan keluarga untuk segera mengoperasi ibuk. Sebagai orang awam, saya harus taat sama yang lebih ahli (dokter). Ya, saya setuju ibuk dioperasi, demi kesembuhan!

“Gimana, Pak, ibuknya dioperasi atau tidak? Ini usus buntunya sudah kronis, lho..” tanya seorang dokter yang bernama Attaqi.
“Kalau itu harus, lebih baik dioperasi saja, Dok,”  tegas saya.

Di situ saya cukup kecewa dengan si dokter. Bukan karena pelayanannya yang buruk, tapi karena saya dipanggil ‘Pak’. Saya dikira suami dari ibuk saya. Ibuk saya memang masih cantik, tapi apakah saya terlihat se-tua itu? Oke, fine! Ini termasuk penghinaan dan pencemaran nama baik. Akan saya laporkan ke Kak Seto dan Komnas perlindungan anak. Tapi karena saya takut masuk infotainment dan menjadi bahan perbincangan di kalangan remaja dan ibu-ibu PKK, saya menurungkan niat tersebut.

***
Pagi-pagi sekali, sekitar jam 5 subuh, ibuk saya didatangi oleh dua perawat yang membawa gledekan (entah namanya apa, tapi maksud saya itu lho, yang digunakan untuk membawa pasien). Jam 5.30 adalah jadwal operasi ibuk. Menurut saya, sih, kepagian. Saya khawatir, si dokter mengoperasi dalam keadaan masih ngantuk. Kan gak lucu kalau lagi ngoperasi malah ketiduran.

Yang membuat saya tenang adalah Ibuk terlihat sangat santai. Tak menampakkan wajah takut sama sekali. Ibuk cuma bilang, ‘Wacakke sholawat, Fa..”. Ya, ibuk cuma minta dibacakan Sholawat.

Dengan cepat dan sigap, Ibuk di-gledek dari kamarnya oleh kedua perawat yang pipinya sunable- menuju ruang operasi. Saya pun mengikuti dari belakang. Bukan karena saya khawatir dengan ibuk, tapi karna saya tidak mau melewatkan kebohaian body perawat yang mendorong gledekan itu. Sungguh, itu pemandangan yang luar biasa. Membuat iman dan imron saya goyah. Sayang kalau terlewatkan begitu saja. *ditabok

Setelah sampai di lokasi operasi, saya pun diminta untuk menunggu di luar. Tidak diijinkan untuk masuk ke dalam ruangan.

‘Maaf, ya, Mas, selain dokter dan asisten, siapa pun tidak boleh masuk ruangan ini,’ kata suster dengan senyuman seperti ngajak jadian. Karena saya tidak siap untuk ditembak terlalu cepat, saya pun memutuskan untuk menunggu ibuk di luar.

***
Saya duduk di luar ruangan. Sambil komat-kamit, membaca solawat dengan harapan operasi ibuk sukses dan lancar. Tapi, tiba-tiba, kejadian aneh pun terjadi. Kearifan kedua telinga saya terusik oleh suara musik dangdut. Lumayan kencang. Karena penasaran, saya mencari sumber suara musik itu.

Degg!!! Setelah mendekatkan telinga ke pintu ruangan operasi, saya yakin suara itu bersumber dari dalam sana.

Saya semakin panik. Mondar-mandir di depan pintu ruang operasi dengan kecepatan tinggi. Saya khawatir terjadi apa-apa dengan ibu saya di dalam sana. Kok bisa, ada suara dangdutan di dalam ruangan operasi? Pikir saya, ini rumah sakit atau tempat karaoke? Jangan-jangan, ibuk saya di dalam sana gak dioperasi, tapi malah diajak joget sama dokternya..

“Ibuk kan lagi sakit, masa iya mau diajak joget?” Saya curiga di dalam sana tiba-tiba muncul pembawa acara ‘I like dangdut’, kemudian mereka menantang dokter dan para perawat untuk berjoget bersama. Mustahil.

Jantung saya berdegup cemas. Kalau diajak karaoke, sebaiknya jangan. Ibu saya kalau nyanyi suaranya jelek. Pas ngomelin saya saja, suaranya fals. Saya takut kalau ibuk saya disuruh nyanyi, malah malu-maluin. Sebelum semakin mencoreng nama baik keluarga, saya pun menuju ke tempat suster yang jaga, untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.

‘Ter, kok di dalam ruang operasi ada suara musik, ya? Masa iya, ibuk saya sakit malah diajak karaoke?’ tanya saya.

‘Oh, iya, memang di dalam ruang operasi biasanya pak dokter menyalakan musik, agar saat proses operasi lebih rileks, ndak tegang,” ucap suster perlahan, namun cukup membuat saya tegang.

‘Oh, gitu ya, Ter? Baru tau saya.. Makasih, Suster...’ pungkas saya. Setelah saya menemukan jawaban yang cukup absurd namun memuaskan, saya pun perlahan kembali ke depan ruang operasi. Kalau dipikir-pikir, bener juga sih, jika segala sesuatu dilakukan dengan tenang, hasilnya pun akan maksimal dan memuaskan. Good job, dokter!

Karena bosan menunggu, saya berusaha membunuh waktu dengan maen game di handphone. Meski di situasi yang cemas, saya mencoba untuk rileks. Satu jam telah berlalu, battery handphone nyaris habis, namun belum juga ada tanda-tanda selesainya operasi. Malah terdengar samar-samar dari dalam ruangan, dokter memutar lagu “goyang dumang”.

Sial, saya bosan. Daripada saya ikutan goyang kayak orang sarap, saya memutuskan untuk menuju warung Lenthog Tanjung, sebagai upaya tunggal mengganjal perut sikspek saya yang mulai meraung lapar. Saya rese kalo lagi laper..(loh?)

Usai memuaskan hasrat perut, saya menuju kembali ke ruang operasi. Sayup-sayup terdengar lagu “oplosan” mulai dipelankan. Itu mungkin sebagai pertanda bahwa operasi sudah selesai dilaksanakan.

Setelah sekitar 2 jam, ibuk pun dibawa kembali ke ruangannya. Suster memberikan saya bungkusan usus sebagai tanda bukti bahwa ibuk saya telah berhasil dimutilasi. Maksud saya dioperasi. Ibuk masih memakai kostum khusus operasi, dan belum bangun karena bius masih merenggut kesadarannya.


***
Hampir seminggu hidup saya terkatung-katung di rumah sakit. Banyak hal-hal ngenes yang sudah saya alami. Tidur hanya di kursi tunggu depan ruangan yang nyamuknya sering menyodomi pipi saya hingga hamil, bau obat yang kadang membuat saya ingin muntah, ikut haru dengan suara isak tangis keluarga pasien lain yang ternyata tak bisa terselamatkan, namun itu semua gak akan mengalahkan niat saya untuk jagain ibuk. Ya, ibuk yang membesarkan saya hingga segede kingkong kayak sekarang. Tanpa ibuk, saya hanyalah butiran zigot yang bingung mau ngapain.

***
Pada akhirnya, tak lupa saya ucapkan banyak terima kasih kepada pihak rumah sakit, yang telah memberikan pelayanan yang –menurut saya- lebih dari sekedar maksimal. Walaupun kelas 2. Tempat yang bersih dan nyaman, fasilitas wifi gratis yang membunuh rasa bosan, senyum simpatik dan view body seksi para suster yang cipokable sebagai pembinasa kekantukan. Thanks for you all. *digampar

Terima kasih juga untuk Pak Susilo Bambang Yudhoyono yang telah membuat program kartu BPJS Kesehatan, sehingga ibuk saya dapat berobat gratisssssssss dengan asuransi tersebut, tak dipungut biaya apa pun. *salim


And… thanks for you all… yang sudah menyisihkan waktu buat baca postingan ini...

Senin, 19 Januari 2015

“Diary Konyol Mantan Mahasiswa Astronomi”

Yeeeaaaaayy! New tagline!

     Dari tagline di atas, saya ingin menegaskan bahwa blog ini saya buat untuk menuliskan catatan harian dan unek-unek saya (yang kebetulan) sebagai mantan mahasiswa astronomi. Bukan blog yang membahas sistem tata surya, atau menceritakan mantan yang ngajak balikan. Bukan juga kisah seorang astronot yang gagal pergi ke Bulan. Jika kamu termasuk pengunjung yang tak sengaja masuk ke blog ini, baca saja.. Kali aja kamu dapet pacar... muehehehe...

***
     Sebenernya sudah lama saya membuat blog ini, sekitar tahun 2011-an. Tapi karena kesibukan saya yang terlalu padat (sibuk mikirin mantan) dan tarif karaoke yang mahal (loh?), blog ini sempat terabaikan dan karatan selama beberapa abad.

     Sebelumnya, blog ini sempet juga beberapa kali ganti tagline. Dari ‘Catatan mahasiswa Astronomi, Catatan Makalah Selama Kuliah, sampai- Makhluk ruang angkasa yang tersesat di Bumi’. Berhubung tagline sebelumnya gak matching sama saraf otak saya yang agak ‘kena’, maka saya ganti dengan ‘Diary Konyol Mantan Mahasiswa Astronomi.

     Oke, daripada kelamaan sebaiknya kita langsung bahas saja, kenapa Raisa bisa secantik itu? Bapaknya sunat di mana? Bikinnya pakai gaya apa?  Maaf, sepertinya itu gak terlalu menarik. Yaudah, kita bahas aja tagline di atas per kata.

     Diary: Ya, fungsi dari blog ini mirip catatan harian, unek-unek, dan mungkin akan saya tambahi dengan cerpen (cerita pendek) dan cersum (cerita mesum, eh maksud saya cerita bersambung). Sebenarnya, dulunya blog ini kebanyakan saya isi dengan materi kuliah saya. Tujuannya, agar memudahkan saya dalam pengerjaan ujian semester. Ya, buat contekan. Tapi berhubung sekarang saya sudah lulus, saya alih-fungsikan sebagai diary. *lempar toga*

     Konyol: Postingan-postingan dalam blog ini, kebanyakan akan saya [coba] tulis dan kemas dalam gaya bahasa yang sedikit konyol (walaupun kebanyakan garing, pura-pura ketawa saja ya!). Sesuai dengan motto hidup saya, 

“Terkadang, hidup ini jangan dibikin serius, karena yang katanya udah serius saja banyak yang putus!”
Sebelumnya pengen buat tagline ‘Diary Sesat Mantan Mahasiswa Astronomi’, sih, tapi berhubung saya takut didemo ormas keagamaan karena dianggap penganut aliran sesat, saya urungkan niat baik saya itu.

     Mantan: kenapa saya memilih mantan? Bukan sebab saya masih sayang sama mantan, tapi terlebih karena; kalau saya tulis “lulusan”, saya takut nanti banyak yang mengira saya adalah seorang ahli astronomi, sehingga mereka meminta saya untuk mengisi tausiyah di majelis taklim ibu-ibu dan menjadi pembicara di seminar astronomi. Bahaya, kan?

     Mahasiswa Astronomi: itu karena saya pernah khilaf kuliah di jurusan Astronomi. Ya. saya termasuk mahasiswa salah jurusan, -bukan salah masa depan. Ilmu astronomi yang saya dapat selama delapan semester hanya satu; akhirnya saya tau bahwa planet Pluto tidak bisa dihuni jomblo.

     Itulah penjelasan singkat dari tagline baru blog ini, semoga tidak bermanfaat...

Sekian dan terimasaya-jadi-pacar..

Welcome to my blog... muehehehe...

Jumat, 15 Agustus 2014

Surat Terbuka untuk Kakanda Shilahuddistira



Selamat malam, Kanda. Salam rindu dari adikmu ini yang selalu lebih pandai darimu dalam urusan cinta. Maaf, aku baru sempat mengirim surat kepadamu semenjak aku pulang dari Semarang, tepat seminggu yang lalu. Keterlambatan suratku ini juga disebabkan karena merpati-merpati kerajaan kita yang mati berjatuhan di perjalanan. Menurut laporan yang aku terima, mereka jatuh karena mengalihkan pandangannya kepada wanita-wanita ber-jilboobs di Negara tempatmu ber-wisuda.

Setiap kali merpatiku hampir sampai di kontrakan lusuhmu, mereka terbelalak dengan wanita-wanita yang dadanya terlihat menyembul. Padahal, untuk menghatarkan surat ini ke Semarang, aku tugaskan 10 merpati paling kuat di Hastinapura, kerajaan kita. Aku juga telah mengijinkan mereka kalau-kalau ingin mampir istirahat di Sunan Kuning, untuk sekedar karaoke dan minum sebotol Vodka. Tapi entah mengapa, mereka lebih terbelalak dengan jilboobs, daripada pelacur yang sering ngangkang di pinggiran jalan sekitar Poncol dan Tawang itu.

Ah, sudahlah, Kanda, yang penting sekarang surat ini telah sampai kepadamu. Walaupun kondisi kertasnya compang-camping, tapi tintanya tidak luntur, kan? Tidak mungkin dong, Kanda.. Kerajaan kita punya percetakan surat yang canggih, tak mungkin luntur seperti tinta fotokopian Prabu Burhan, sahabatmu di Semarang itu yang juga dulunya mahapatih di kerajaan Kaliampo.

Maaf juga, Kanda, kemarin aku tak bisa berlama-lama menemanimu ber-euphoria di sana, karna ada beberapa kegiatan yang harus kulakukan di Singgasana kerajaan kita. Aku juga sedang sibuk blusukan, tapi ternyata aku lupa, bahwa tak ada orang miskin di Astinapura. Semuanya makmur. Astina juga baru saja melakukan pemilihan “Miss Hastinapura dan Kontes Muslimah Astina”. Aku berharap, saat nanti kanda pulang ke Astinapura, Kanda bisa memilih salah satu dari mereka untuk dijadikan selir. Kanda tak perlu membawakan aku kakak ipar dari Semarang. Mereka semua tak lebih cantik dari budak-budak wanita di Astinapura. Tak perlu kanda mengejar cinta mereka. Apalagi sampai sedih berlarut karna mereka menolak cinta suci Kanda. Mereka hanya tidak tau betapa berwibawanya Kanda di Astina.

Oh iya Kanda, saat merokok dan ngopi berdua kemarin, di dekat menara BSB Semarang yang tak lebih bagus dari tempat leyeh-leyeh budak kita, aku tak sengaja melihat gelembung perutmu yang mulai berlapis tiga. Sepertinya, kau sangat makmur dan menikmati hidup sederhana di kontrakan tua depan LP Kedungpane, Jl. Semarang-Boja itu. Sebenarnya, bukan fisikmu yang kusesalkan, tapi bahasa Inggrismu yang mulai berantakan. Aku ingat betul saat maksudmu mengataiku “bodoh bukan main!”, kau malah bilang ‘Stupid doesn’t play!’. Kanda, kamu ini kenapa? Saat Astinapura sudah lancar berbahasa Korea, Jepang, China, Italia, German dan Perancis, bahasa inggrismu malah keteteran. Tapi, tak apalah Kanda, Inggris itu bekas jajahan Astinapura, tak perlu kita pelajari bahasanya yang rendahan itu. Kita harus pede dengan Bahasa Resmi Astinapura.

Kanda, aku sebenarnya mau curhat, semenjak Kanda Prabu telah dibaptis oleh Santo agung sebagai wisudawan terbaik, kerajaan kita menjadi morat-marit. Entah apa penyebabnya. Mungkin Kanda harus segera ber-syahadat lagi. Banyak wanita ber-jilboobs yang meniru-niru cara berpakaian kaum rendahan di Indonesia. Mereka sudah mulai meninggalkan budaya Astinapura yang identik dengan keanggunan kemben bermanik mutiara, sedikit menyembulkan atas dada dan kebaya berbatik emas yang kita produksi dari Majapahit. Rambut hitam panjang terurai indah dengan mahkota emas 300 karat, sudah mulai jarang aku lihat lagi. Omset di Majapahit pun menurun drastis, semenjak para wanita kita sering berbelanja online di Indonesia. Ini akibat kebijakan Kanda ratusan tahun lalu, yang membuat tower-tower internet berkecepatan 1GBps di Astina. Sekarang juga banyak Prajurit kita yang berbelanja senjata online. Padahal, perlengkapan perang Negara lain tak lebih canggih dari punya kita. Pokoknya, setelah Kanda pulang, kita harus menata kembali Astinapura yang mulai mengalami degradasi moral.

***

Oh iya, Kanda. Sebagai mantan senopati agung dalam perang melawan bengisnya rumus ‘Jean Meus’ yang berhasil engkau menangkan itu, hendaknya Kanda jangan merasa puas dengan apa yang Kanda peroleh sekarang. Jadikanlah upacara pembaptisan di Semarang kemarin itu sebagai tahap pertama dalam meraih kembali kejayaan kita. Kejayaan di mana sastra lebih dihormati ketimbang astronomi, kejayaan di mana cinta itu -katamu- tak mengenal untung dan rugi, kejayaan di mana Rahwana sebenarnya mempunyai cinta yang sangat tulus kepada Dewi Sinta.

Kanda, kau pasti pernah mendengar tentang kebengisan Rahwana, si raksasa dari Alengka itu, yang dalam mitologi Hindu dikatakan sebagai makhluk yang dikutuk menjadi –terlihat- jahat karena orang tuanya bercinta di waktu yang tidak tepat. Tapi, sebengis-bengisnya dia saat merampas Alengka, rakyat paling miskin pun diberinya kendaraan dari emas. Tidak ada yang kelaparan seperti di Negara yang sedang kau tempati itu, yang rakyatnya mudah dihasut, diadu-domba dan dibodohi oleh media-media penjajah yang sedang melakukan konspirasi besar. Juga dibodohi media online yang berkedok Agama, namun menebarkan benih-benih kebencian, seperti voa Islam.

Kanda, kita harus belajar banyak tentang cinta dari Rahwana. Menurutku, Rahwana adalah symbol cinta yang paling suci. Dia bengis untuk memperjuangkan cintanya kepada Dewi Sinta. Walaupun kita tahu, Rahwana berjuang untuk mendapatkan cinta dari seseorang yang bahkan tak pernah mau menatap matanya, tak pernah mau digenggam jemarinya. Tapi tetap saja, dia tak mau dibilang ‘berjuang’. Cinta yang membuatnya tak pernah merasa berjuang. Awalnya, aku pikir, itu adalah kebodohan Rahwana. Tapi, ternyata aku harus belajar banyak darinya, dari hati yang tak pernah beralih meskipun cinta tak mampu diraih. Kau harus tau Kanda, bahwa banyak orang bilang Rahwana tak mampu dibunuh, meski tubuhnya dihancurkan sekalipun. Tersebab ilmu rawarontek lah, pancasona lah, atau apa pun itu, hal itu salah kaprah, Kanda. Yang tak mampu dibunuh itu cintanya, bukan nyawanya. Raganya bisa mati, tapi cintanya tetap hidup abadi untuk Dewi Sinta.

***
Wahai Kanda Prabu, aku mendengar selentingan gossip dari ibu-ibu PKK di kerajaan Astina, bahwa Kakanda Prabu mau berhijrah ke kasultanan Yogyakarta. Apakah benar, Kanda? Kalaupun benar, itu membuat sakit hati para janda cantik yang sedang menunggumu pulang ke Astina. Mereka rela menjanda selama 12 semester, berharap nantinya dinikahi oleh Kanda. Siapa yang tidak terpesona dengan kesaktian jurus kamasutra yang kanda punyai. Kedahsyatan ajian ‘berontak ing dalem sempak’ yang sangat kau kuasai, membuat hati para janda itu bergetar saat mendengar nama kanda disebut.

Kalaupun Kanda tidak bisa pulang ke Astina, dan memutuskan menetap di Krapyak, Ngayogyakarta, sebenarnya tidak apa-apa. Aku percaya bahwa Kanda memang sangat dibutuhkan di Krapyak. Ramalan jayabaya mengatakan; bahwa kanda akan menemukan cinta di sana. Segera temukan dia, Kanda. Menikahlah. Perbanyak klan kita, yaitu Kurawa. Kau tau sendiri, Kanda, bahwa pandhawa lima yang sering kita olok-olok sebagai ‘boyband’ di Astina, telah membunuh ratusan Kurawa. Hanya beberapa orang yang tersisa. Kredibilitas dan kapabilitas kanda akan dipertanyakan jika tak mampu memperbanyak klan kita. Sekian surat dariku, Kanda.. Semoga Kanda selalu diberikan kesehatan oleh Sang Hyang, Allah yang maha agung.

Dari adikmu yang jauh lebih ganteng darimu, yang selalu merebut kekasihmu…



Astinapura, 15 August 2014,
Pukul 27.05 WAB (Waktu Astinapura Barat)

Minggu, 20 Juli 2014

Nila, My Beloved Friend

***
Wanita ramah bersuara indah yang mengangkat telepon terdengar takjub begitu mengenali lugatku. Tentunya, dia pasti tak pernah menyangka akan ditelpon olehku. Sesaat kemudian dengan suara ramah yang tidak dibuat-buat itu, dia menyapa tanpa ragu,

“Ofaaa!! Ke mana saja kamu? Sudah hampir setahun ini tak ada kabar! Jahat!”  bentaknya dengan nada yang hampir masih tak percaya bahwa aku, sahabat di kampusnya dulu yang menelponnya. Aku memilih langsung mengingatkannya dengan warung soto di depan kampus kami dulu.

“Kamu yang jahat, aku tunggu di warung soto Pak Mo, tapi kamu tak kunjung datang. Demi apa kamu malah memarahiku? Hahhh? Hahaha..” balasku dengan tawa yang seakan menumpahkan kerinduan yang teramat dalam padanya.

Nikmat rasanya bisa mendengar lagi suara itu. Dia pun turut larut dalam obrolan panjang tentang masa lalu kami. Tetiba, suaranya melemah saat kucecar beberapa pertanyaan tentang siapa kekasihnya, atau bahkan siapa calon suaminya sekarang. Pembicaraannya justru dialihkan ke luar bahasan; tentang beberapa muridnya yang sering nakal saat diajarnya.

“Eh, Fa, murid-muridku nakal sekali. Mereka terkadang menggodai dan mengejekku dengan istilah ‘bu guru cantik, bu guru seksi’. Padahal mereka baru berumur 15 tahun. Cepat sekali proses pendewasaan remaja sekarang.” Katanya dengan nada sebal.

“Ah, sudahlah, jangan mengalihkan pembicaraan. Toh juga kamu emang cantik, kan? Hahahaha…” ledekku, sambil membayangkan barisan gigi putihnya yang berderet rapi, seperti barisan santri di pondok kami dahulu saat dihukum karna terlambat pergi ke aula untuk mengaji kitab Tafsir.

“Fa, sekarang aku mau dijodohin sama abahku, sama anak Kyai Wonogiri,” tuturnya dengan intonasi yang rendah. Seperti not yang keluar dari piano rusak. Aku paham, pertanyaan ini pastilah membuat hatinya diliputi keharuan yang tak bisa diungkapkannya dengan kata lantang. Dia butuh untuk menenangkan hatinya sejenak.

Nila, dia adalah sahabatku saat berburu ilmu di kampus ijo dulu. Hampir setahun lalu kami berpisah, karena kita harus boyongan ke rumah masing-masing sesaat setelah ceremonial wisuda kami. Aku pun terlalu sibuk menyelesaikan deadline dari redaktur untuk mengirimkan beberapa hasil liputan. Itu kuceritakan padanya, sekaligus mengucapkan maaf karena sama sekali belum pernah memberi kabar, bahkan cuma sekedar menelponnya sejak itu.

”Jadi sekarang apa yang membuatmu gundah? Dia kan “gus”, sangat cocok untukmu yang juga produk dari orang alim dan sholeh?”

”Kebelumsiapan untuk menikah.”

”Ah Bohong! Kalau ini hanya soal belum siap, tak perlu kau sesedih itu. Beri saja waktu setahun atau dua tahun lagi, sampai kau siap!” cecarku sambil sesedikit tertawa.

Aku tersenyum. Hanya sebentar kecanggungan di antara kami sebelum kata-kata obrolan meluncur lagi seperti desingan peluru-peluru yang ditembakkan oleh densus 88 pada terduga teroris di Batang tahun lalu.

Lama tak bersua, mau tidak mau aku membongkar-bongkar kembali kenangan kami yang sempat tertimbun oleh jarak dan waktu. Pengalaman yang menjadikan dia, walau tidak setiap waktu, selalu lekat di ingatanku. Tentu dia mengingatnya pula, bahkan aku yakin rasa yang diidapnya lebih besar efeknya. Karena sebagai seorang sahabat, dia jelas jauh lebih tulus dan setia daripadaku.

Dulu, pernah pada suatu siang, aku berada di perpustakaan pusat, memerhatikannya mengobrak-abrik rak buku, mencari beberapa referensi tugas untuk presentasi kelompok kami. Nomor urut absen Nila yang tepat di bawahku, memaksa kami untuk selalu bersekelompok. Setelah duduk, setumpuk buku filsafat dan sebotol teh dingin bersedotan dua, yang menjadi pelega haus kami digeletakkan di atas meja. Saking seriusnya, dahi yang putih bersih tanpa polesan bedak itu hampir seluruhnya berkerut. Mata yang sedikit sipit namun cukup tajam itu pun dengan beringas bergerak naik turun menyapu semua halaman buku, membaca teks-teks literatur arab itu. Beberapa jengkal di sampingnya, aku terduduk santai meletakkan punggungku di sandaran kursi, menyumpal kedua telingaku dengan hedset dan music keras, dan menaikkan kaki kiriku sambil bermain-main dengan dua pulpen yang kugerakkan layaknya menggebuk drum.

Bagaimana tidak, dia sosok sahabat yang nyaris sempurna. Sifat ikhlas, membuat dia tak pernah merasa ‘dimanfaatkan’ olehku. Beda denganku, aku hanya seorang sahabat yang hanya bisa tetap berada di sampingnya, berusaha mengusap kesedihannya dengan lemparan-lemparan joke yang sedikit banyak mampu membuat tawanya melepas. Katanya, hanya akulah orang yang tak pernah kehabisan cara membuatnya melupakan segala kesedihannya. Saat-saat seperti itulah yang selalu kurindukan. Ditambah suara merdunya saat melafalkan ayat-ayat Tuhan tanpa menengok sedetik pun ke al-Quran yang dipeganngnya. Hampir setiap hari kita bertemu dalam kelas dan jam yang sama. Mungkin Itulah yang memaksa kita semakin dekat.

“Ya, benar katamu. Aku masih meridukan ‘dia’. Tanpa aku cerita, kamu pasti tau lah… “

“Sudahlah, tak usah kauridukan begundal Sofwan itu. Dia hanya sosok ‘banci’ yang mencoba kau-pria-kan. Kalau dia benar mencintaimu, pasti sekarang dia sudah ke rumahmu, membawakan sebuah cincin perikatan dan beberapa loyang kue ketan manis. Nyatanya mana? Tidak, kan? Sekarang ia menghilang entah diculik janda komplek mana!”

Setelah puas membuat dia galau sampai hampir jam 3 pagi, aku berpamitan untuk menutup telepon, karena saat itu mataku sudah dihinggapi rasa ngantuk yang dalam.

“Ah, kamu malah buat aku galau, Fa. Besok-besok kalau telepon, buat aku ketawa! Pokoknya besok malem wajib telepon aku lagi!”

“Baiklah paduka ratu, sekarang waktunya tidur. Bentar lagi bangun subuh, besok ngajar!”

****
Sambil  melotot tidak senang, aku menyaut lidi bekas tusuk “sate pentol” dari tangannya. Kemudian, aku menghancurkaan tulisan-tulisan aneh yang dibuatnya di tanah. Ya, mataku sepat! Bagiku nama Sofwan, pacar Nila saat itu, adalah nama begundal yang tak jelas arah maksudnya. Dia mempermainkan wanita-wanita yang mencintainya dengan tulus. Yenri Zumala misalnya.

“Hey, paduka ratu! Lebih baik kausimak baik-baik hafalan ayat-ayat ilmu waris yang belum juga kuhapal ini! Sebentar lagi mau setoran mata kuliah Fiqih Mawaris. Jangan sibuk menggalaukan orang yang tak pernah mau mendengar keluhmu!”

Nila memang sering menangis tersebab Sofwan. Bajingan yang tak punya belas itu, membuatku ingin mematahkan lehernya, dan mencincang tititnya hingga menjadi tujuh belas potong. Aku memang tak pernah tahan melihat Nila menangis. Rasanya, nyeri yang kurasa itu seakan menjalar dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nila, sahabatku yang tulus mencintainya, malah disiakan begitu saja. Pria semacam itu hanya pantas mendapatkan tulang rusuk di Dolly!! Sayang, dolly udah ditutup.

Saat sibuk menghapal, terlihat segerombolan mahasiswi berseragam biru, berlalu-lalang melintas di depan kami yang sedang duduk bersandar di tiang gedung M. Hafalanku pun hilang seketika melihati mahasiswi jurusan perbankan yang gemar bersolek itu.

“Tuh, kan, kalau lihat cewek cantik, matanya ke mana-mana, hapalannya langsung lupa!” cetus Nila seraya mengerutkan sudut kanan di bibirnya.

“Hey, paduka ratu! Mahasiswi perbankan memang cantik-cantik, ya. Tidak seperti anak jurusan kita yang tak pernah becus bersolek. Bisanya cuma ngaji dan pegang kalkulator!!! Hahahaha…” gurauku.

**** 
Bersambung…. 

Minggu, 13 Juli 2014

Front Pembela Cinta

Oleh: Ketua Umum FPC (Front Pembela Cinta).

Beberapa waktu yang lalu, saya sedang asyik menonton kartun kesukaan saya, Masya and The Bear. Biasa lah, cowok gagah sangar seperti saya memang harus suka nonton kartun cewek, biar gak terlalu dianggap galak. Setelah ada jeda iklan, saya iseng untuk membuka akun Fesbuk. Tetiba, saya geli melihat status seorang cewek, yang ternyata (menurut saya) lebih absurd dari status-status sesat yang biasa saya tulis. Kira-kira tulisannya begini, “Cewek itu sebenarnya gak matre, tapi pengen masa depannya jelas, untuk dia dan anak-anaknya, realistis kan?”. Bagi saya, status demikan adalah racun yang dianggap benar oleh sebagian cewek. Maka, wajib saya luruskan dan cari penawarnya. *Uhukk*

-Nah, di mana letak absurdnya? Mari kita bahas dengan hati, bukan emosi.

Cewek yang berprinsip kayak gitu, mungkin disebabkan;
1. Dia pemuja uang yang tak bisa hidup kecuali dengan harta berkecukupan.
2. Dia wanita lemah yang tak berpotensi memiliki masa depan jelas dan berharap menggantungkan masa depan jelas dari orang lain.
3. Dia lupa bahwa Tuhan bisa merubah seorang kaya menjadi sangat miskin.
4. Dia gak pernah merasakan cinta, Ini lebih berbahaya.
5. Dia belum baca tulisan ini. (Ya iya, lah!)

Sebagai ketua umum dari ormas FPC (Front Pembela Cinta) beraliran cinta garis keras, yang bertugas memurnikan segala bentuk penyimpangan ajaran cinta dengan semurni-murninya, saya tersinggung dengan statement tersebut. Bahkan, saya sarankan buat sebagian cewek yang tidak pernah mengerti makna cinta tersebut menjadi budak seorang raja, biar dia tercukupi biaya hidupnya dan hanya menjadi pelampiasan seksual sebagai tempat pembuangan zigot, tanpa merasakan arti cinta.

Cewek yang berotak kosong kayak simpanse Zimbabwe itu mungkin gak sadar, bahwa apa yang dia katakan; “pengen jelas masa depannya” itu, adalah bukti bahwa dia hanya memikirkan kesenangan, kesejahteraan dan kecukupan. Dia gak mau susah? YA BENAR! Di otaknya cuma ada harta, harta dan uang. Dia sangat takut hidup susah.

Dia akan berhenti mencintai kita, (misalnya) jika tiba-tiba kita sebagai kekasih dan suaminya, tersebab suatu musibah menjadi lumpuh dan tak berdaya di rumah sakit, bahkan koma dan tak bisa mencari nafkah! Coba deh pikir, jika suatu saat suami yang dianggap ber-kriteria masa-depan jelas itu tetiba mulai bangkrut dari usahanya, karirnya, atau pekerjaannya, mungkin cewek itu bakal nangis-nangis salto dengan kecepatan cahaya, karena ngerasa kehilangan tujuan awalnya; yaitu “masa depan jelas”. Atau bahkan, cewek simpanse yang gak pernah makan pisang itu bakalan menceraikan suaminya, dan mencari kejelasan lain (red: pria kaya bodoh lain).

Bisa juga, suatu saat, (misal) kamu cowok kaya-raya, tetiba karena ada kutil stadium 4 di tititmu, dokter menyatakan harus dioperasi. Kemudian gagal dan akhirnya kamu meninggal, si cewek simpanse itu tidak akan sedih. Malah dia bahagia. Karena apa? Dia sudah bahagia dengan “harta warisan” yang kamu miliki sebagai tujuannya. Cewek berjenis bekantan Kalimantan kayak gitu, gak pantes buat kita pertahanin, Sob! Bahkan dia, bisa mudah dibeli dengan kata “kesejahteraan”. Mereka hanya pelacur kehidupan yang berusaha berjudi di meja Tuhan, tanpa sadar bahwa Tuhan-lah bandar utama yang maha berkuasa menentukan takdir makhluk ciptaanya.

Tak semua cewek sih. Mungkin hanya cewek sakit yang akan berprinsip rendahan seperti itu. Tapi, tenang, Bro, banyak cewek sehat kok. Mereka bakalan bilang, “Aku akan tetap bersama pria yang kucinta dalam keadaan apa pun, dan memantaskan diri sebagai masa depannya. Karena akulah masa depannya, dan dialah masa depanku!”. Cewek yang bisa merasakan arti cinta, gak pernah peduli dengan kekurangan kekasihnya. Mau kaya kek, miskin kek, ganteng kek, jelek kek, keteknya bau kek, kalau tidur ngoroknya kayak babi disodomi kek, mereka ngga’ bakalan peduli! Bagi mereka (cewek sehat); duit bisa dicari, tapi cinta tak bisa dibeli. Karna hanya cinta seorang pelacur yang bisa dibeli. Itu pun bukan “dasar” sesungguhnya dari cinta, tapi sudah ditambah dengan imbuhan ber- (read: bercinta).

Itu kan mengutip kata-kata Mario Teguh?

Ya, benar, kalimat itu termasuk motivasi dari Mario Teguh kepada para pria, agar lebih semangat bekerja. Tapi, sekali lagi, itu adalah kapasitas dia sebagai motivator, untuk memotivasi pria. Menjadi sangat menggelikan ketika kata-kata itu menjadi pegangan, dalih, atau bahkan prinsip hidup seorang wanita untuk mencari suami.

Banyak yang terdogma oleh kalimat yang sebetulnya bukan untuk kaum hawa tersebut. Ingat, jangan me-Nabikan Mario Teguh. Kalimat yang keluar dari mulutnya bukan wahyu Tuhan yang harus kita sucikan untuk prinsip dan pedoman. Beberapa perlu kita kritisi. Cinta itu memang tentang sesuatu yang sangat sulit untuk didefinisikan. Cinta juga tentangketidak-realistis-an. Realistis hanya berada di ranah akal dan logika, sedangkan cinta itu tak bisa dirasa dengan logika, karena hati yang berbicara. Pernah gak, suatu ketika kamu merasakan perasaan gelisah, senang, sedih, rindu, bahagia, yang kesemuanya tercampur aduk menjadi satu? Logikanya di mana ketika tiba-tiba kamu sangat takut kehilangan seseorang, padahal saat itu sangat banyak yang bersiap menjadi sandaranmu? Hah? Tak bisa dicerna dengan logika, kan? Apa kamu belum pernah merasakannya? Ciyan…

Cinta juga tak akan pernah bisa menjawab alasan. Saat ditanya “Apa alasanmu mencintainya?” dan kamu bisa menjawab, “karena dia cantik”, maka saya bisa pastikan itu BUKAN CINTA, karena cinta tak mengenal alasan. Bisa dipastikan, bahwa orang yang benar-benar jatuh cinta itu tak akan bisa mengutarakan alasannya. Alasan yang paling tepat mengapa mencintai seseorang itu adalah “cinta” itu sendiri. Semoga kita dijauhkan dari wanita berjenis simpanse (simpanan) tersebut. Masih banyak kok wanita sehat yang paham arti cinta. Saya yakin.

Nah, omong kosong saya di atas adalah untuk menyadarkan para pria, supaya berhati-hati dalam menentukan pilihan. Jangan sampai saya mendengar kalian ditinggalkan wanita berhati busuk yang hanya mencintai masa depanmu, bukan kamu.

Padahal, cewek juga gak mau, kan, seandainya dicintai seorang cowok hanya karena kecantikannya atau hanya karena teteknya sebesar pepaya Bosnia. Nah, kalau tiba-tiba ada Masha dan beruangnya lagi kejar-kejaran dan mereka gak sengaja nyenggol botol air keras dan tumpah ke wajahmu? Terus wajahmu rusak dan kebakar, tetekmu mengkerut, kemudian cowokmu menjadi kehilangan tujuan awalnya; yaitu fisikmu, maka dia pasti akan mundur teratur meninggalkanmu dan mencari cewek yang lebih cantik lainnya, yang lebih besar teteknya. Apa sebagai cewek kamu gak sedih? Hah? Coba deh ikut mikir. Pria juga sama, mereka tak akan mau dicintai karena dianggap bermasa depan bagus. Cintai dia, bukan masa depannya.

Udah ah, cukup sekian kultum hari ini. Maafkan segala kesalahan saya, Masha dan juga beruangnya. Ini hanya ungkapan hati saya sebagai seorang pria bermasa depan tak jelas. Sekian dan terimaciyuman.